Selasa, 08 Oktober 2013

Postingan ini melanjutkan postingan berikut ini...>>>

Jum'at, 20 September 2013 


Pukul 10.30 WIB

Setelah di dorong-dorong diatas kursi roda untuk pertama kalinya dalam hidupku dan didampingi sama Ibuku, akhirnya sampailah aku di depan Ruang Radiologi Rumah Sakit Dr. Sayidiman Magetan. Di depan Ruangan yang bercat cokelat muda dengan bangunan kuno, sudah ada banyak orang di depannya, eittss maaf, banyak pasien sedang mengantri untuk di periksa tepatnya. Di luar ruangan itu juga dipadati oleh keluarga-keluarga pasien yang sedang menunggu untuk diperiksa lebih lanjut dan juga ada perawat yang mendampingi masing-masing pasien itu sambil membawa buku kuning laporan kesehatan masing-masing pasien. 

Ketika tiba di depan ruang Radiologi itu, ada banyak pasien manula dan juga seorang ibu-ibu kurus paruh baya, dan hanya terdapat 2 orang anak muda yaitu aku sendiri dan seorang cewek ABG berperawakan kecil dan kurus. Persamaan kami, para pasien yaitu sama-sama naek 'kendaraan' bernama 'kursi roda' dan dilengan kiri terdapat slang infus, dan juga wajah-wajah memelas plus kagak mandi hihihi, #gubrakk...

Sampai di ruang itu perasaan ku udah BETE berat N ilfill luar biasa, aku kagok sama pemeriksaan seperti ini, coz mar cokoz ini kali pertamanya aku harus rawat inap di rumah sakit selama hidupku. Hal pertama yang kutanyakan dan merasuki otakku yaitu, "Kapan selesai...??" pertanyaan itu juga yang kutanyakan sama perawat yang membawaku ke ruang ini. Dengan senyum dia menjawab, "Enggak lama." eett salah... masih ditambahi lagi dink kalimatnya. "Masa Bu guru takut." sambil senyum. Dalam hati aku berteriak, "SIALAN KAMPUS GUE DIBAWA-BAWA #1." (sambil mencep dan ngelus dodo...) namun dalam hati, tabung gas 3 kiloan udah hampir meledak.

Setelah perawat itu masuk ruangan dan menyerahkan buku kuning itu, namaku dipanggil, kini giliranku rupannya, jangan ditanya gimana rasanya, pasti deg.. degan luar biasa. Aku di dorongnya masuk ruangan itu. Saat masuk aku ditanyai umur, setelah itu masuk lagi ke dalam ruangan berukuran 3 x 7 meter, di dalamnya AC-nya sangat dingin, dasar badan lokal akupun menggigil gara-gara AC itu. Selaen itu AC-nya berukuran luar biasa gedhenya untuk ukuran ruangan tersebut. Di dalam ruangan itu selain ada AC yang super duper jumbo ada 2 buah alat medis, satu berukuran gedhe memiliki panjang sekitar 2 meter hampir mirip kayak meja bilyard tapi diatasnya ada kayak alat pemindai buat foto rongent seluruh tubuh gitu gak tau namanya apaan. Satuya lagi berbentuk papan berukuran 30 cm x 60 cm yang menempel di salah satu sisi di dalam ruangan tersebut. Yang jelas 2 alat medis itu udah bikin aku GALAU dan juga MINDER gak karuan, udah mau nagis rasanya kagok ngeliat 2 alat itu. #tisu_mana_tisu.

Setelah ditinggalin sama perawat yang dari tadi udah ngedorong aku, (tadi perawatnya cowok) masuklah petugas cewek, dia memintaku untuk buka baju, (kali ini sensor) sambil menghadap alat yang berukuran 30cm x 60cm itu, aku disuruhnya menempelkan dagu di atas alat itu dan menarik nafas panjang, setelah gagal di tarikan nafas pertama karena kagok berkepanjangan, kemudian berhasil juga di tarikan nafas kedua, #yeeey.. #gak_jelas. Akhirnya diambilnya juga lembaran hitam dari dalam alat itu. Aku pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan berkecamuk luar biasa. Udah galau gak ketulungan, rasanya udah hampir tangis ku meledak saat itu juga, gara-gara takut sama hasil tes itu sama ketakutan ngeliat alat-alat medis dalam ruangan itu.

Keluar ruangan hal pertama yang kulakukan ialah, hampir saja tangisku meledak sangking ketakutannya. Dengan nada setengah kesal ayahku yang udah tiba dan nungguin aku, aku panggil dan dengan cepatnya aku pegang tangan kuat-kuat, kayak anak TK yang menangis ketakutan ngeliat anjing gitu, nangis pemirsa di depan ruang Radiologi. Perawat yang keluar ruangan itu terheran-heran ngeliat aku berlindung di ketiak Bapakku sambil nangis malu-malu siput sambil berujar, "Lho kok Bu Guru, nangis." #SIALAN KAMPUS GUE DIBAWA-BAWA #2. 

Karena dari pihak keluarga, dan disini lebih tepatnya ialah Ibuku menghendaki untuk tes lebih lanjut lagi maka aku diharuskan tes lagi yaitu dengan di USG (Ultrasonografi) yang kayak buat bumil-bumil gitu dah... Jadilah aku disitu masih harus tes lagi, padahal aku udah gak kuat ngeliat berbagai peralatan medis yang teramat asing bagiku. Setelah menunggu sebentar, aku didorong kembali memasuki ruang di sebelah ruangan yang tadi aku masuki. Setelah berada di dalam, Ee.... lhadhala.... tralala... trilili... Lha kok di dalam ruangan itu banyak sekali terdapat peralatan medis yang bikin aku kagok setengah entit. Di dalam ruangan itu terdapat 5-6 peralatan medis yang berukuran segedhe gajah pokoknya gedhe-gedhe banget dah, luas ruangan itu juga 2 kali lebih luas dari ruangan yang pertama tadi aku masuki buat foto rongent.

Tibalah aku di salah satu sisi ruangan itu, disana telah menantiku alat medis yang bernama USG tadi, alat itu berupa layar monitor komputer tua, dan dilengkapi dengan stik buat memeruksa perut pasien. Liat alatnya aja udah bikin GALAU-ku tambah parah, gimana gak aku udah ilfill setengah mati, tangiskupun udah hampir meledak karena ketakutan liat alat-alat itu. 

Tak lama masuklah dokter berusia lanjut berperawakan tambun dengan perut buncit dan kepala yang ditumbuhi uban tapi udah keliatan botaknya. Dokter itu ramah dan terlihat suka bercanda, dia masuk ruangan itu dengan di dampingi sama perawat yang dari tadi dengan setianya ngedorong-dorong aku, hihi #dasar_koplak. Pertanyaan pertama yang muncul dari Dokter itu, yaitu nama, dengan males-malesan aku jawab, "Putri." "Apa Putra..??" "Putriiii.... Pak...!!!" (tandukku udah intip-intip mau keluar). "Oo... Putra... eee... salah Putri, kelas berapa...??? (Yeeey... ternyata aku awat muda juga, coz pertanyaannya kelas berapa, ambil cermin). Dengan santainya perawat yang tadi udah ngedorong-dorong aku berujar, "Keeelass...??? wong ini calon guru lho pak," Dokter itu terkejut juga, "Hah calon guru...???" "Iya udah semester 5." perawat ku itu ngejawabnya sambil cengengesan. Aku hanya bisa tersenyum kecut mengingat udah galau plus ilfill duluan sebelum memasuki ruangan itu. Sambil pasrah dan berjiwa pemberontak, sambil setengah teriak, aku berkata, "Cepetaaaann... pak....!!!" sambil nahan aer mata biar gak maksa buat keluar. Dokter itu bukannya cepat-cepat memeriksaku tetapi malah dengan santai menimpali, "Masa Bu Guru takut.....???" #SIALAN KAMPUS GUE DIBAWA-BAWA #3. 

Setelah itu gel berwarna bening ditunagkan ke atas perutku, dokter itu dengan cekatan memainkan stik USG ke atas perutku, sambil berusaha keras menenangkanku yang udah gusar gak keruan sambil nahan tangis. Di tengah-tengah pemeriksaan, aku udah gak tahan lagi mau meledak, dia dengan perawatku rupanya terlibat dialog serius, gak jelas juga aku dengernya coz udah gusar abis n istilahnya udah medis yang berat-berat buat di terjemahkan, jika dalam keadaan tenang mungkin aku aku paham, coz dulu kan anak IPA dan juga sekarang memasuki jurusan bahasa Inggris paling gak aku bisa tau kata-kata itu menjurusnya pada apaan, karena otak lagi konslet jadi gak tau deh mereka diskusiin apaan. Terliat jelas keseriausan di wajah mereka berdua, berdiskusi sambil melototin layar monitor USG itu, melihat itu aku tambah gusar, tegang luar biasa, tanpa terasa aku pun teriak-teriak histeris ketakutan, memohon dihentikan pemeriksaan itu. Aku udah menyumbat telingaku rapat-rapat gak mau denger apa yang mereka katakan, sambil mulutku teriak histeris ketakutan. Eee... lhadhala dokter sama perawat itu malah berkata, "Bu guru kok nangis." #SIALAN KAMPUS GUE DIBAWA-BAWA #4.

Setelah lama bergulat dengan kegalauan di ruang pemeriksaan tadi, akhirnya pemeriksaan dengan USG itu selesai juga. Akupun kembali di dorong sama perawat itu keluar ruangan. Aslinya menurut prosedur aku masih harus nunggu sebentar hasil tes itu keluar, tapi karena di dalam udah histeris gak keruan dan udah gak tahan mau meledak karena nagis ketakutan, aku memaksa buat langsung kembali ke dalam ruanganku. Akhirnya dengan terpaksa, perawat itu menuruti permintaanku, akupun dikembalikan ke dalam ruangan tempatku dirawat. Sesampainya di ruanganku ternyata udah menunggu seorang ibu dengan anaknya, nunggu aku mau menjenguk, coz ibu itu temennya Ibuku. Karena udah histeris duluan, perawat tadi aku sembur dengan pertanyaan, "Kapan boleh pulang?" Dia menjawab, "Kalau udah sehat." sambil senyumsenyum gitu. Abis itu dia benerin infusku yang macet lalu keluar ruangan, menuju ruang radiologi lagi buat ngambil hasilnya, coz tadi dia aku paksa buat nganterin aku dulu ke ruanganku, #hihi sukurin. 

Frustasi, histeris, ketakutan, gusar, kagok udah jadi satu dibenakku, maka sesampainya perawat itu meninggalkan ruangan, aku nangis sambil pegang tangan Bapakku kuat-kuat kayak lagi bertahan ditegah badai yang ganas. Tangisku udah gak bisa dibendung lagi, maka gak peduli lagi maka tangisku meledak, aku nangis dengan teriak-terik ketakutan, Bapakku pun kebingunagan meredakan tangisku. Entah gara-gara denegr suara tangisku, atao apa, ee.... tiba-tiba ketua ruangan paviliun tempatku dirawat dateng ke dalam ruanganku, dia bingung ngeliat aku nagis kayak anak kecil sambil meraung-raung berpegangan tangan sama Bapakku. Dengan santainya dia berkata, "Lho Mbak Putri kok nagis kenapa...???". "Ketakutan, bu...??" jawab Bapakku, coz aku udah gak punya mood bagus lagi buat ngejawab pertanyaannya. ketua ruangan tadi, menenangkanku, sambil berujar, "Gak papa kok, lha wong cuman diperiksa gitu aja, gak sakit kan..??" hiburnya, tapi aku udah gak mood lagi buat menimpalinya, udah stress berat pemirsa, jadi hanya bisa melototin ketua ruangan itu, #hihi kasian.Kemuadian dia berlalu ke luar ruanganku, akupun melanjutkan tangisku.

BERSAMBUNG...>>>

0 komentar:

Posting Komentar